Minggu, 14 November 2010

adab manggunakan Hp dalam Islam

Jangan menggunakan ponsel pada saat berada di majelis ilmu atau masjid.  Hal itu bisa mengurangi wibawa majelis dan mengganggu orang yang sedang menuntut ilmu
Hidayatullah.com—Tak ada satu agama di dunia ini yang begitu memperhatikan umatnya dalam masalah adab, etika, bahkan terhadap hal-hal sekecil pun, kecuali agama Islam.  Bahkan untuk berbicara dan menelepon terhadap lawan bicara, para ulama telah menggariskan beberapa landasan dan adab-adabnya.
Sesungguhnya pesawat telepon dengan segala kemudahannya telah memegang peran yang sangat penting dan memberikan jasa yang besar berupa penghematan banyak hal, baik waktu, biaya, dan transportasi.
Para ulama pun telah membahas masalah telepon ini beserta adab-adab dalam menggunakan perangkat ini. Hal-hal apa saja yang perlu dijaga dan penting untuk diperhatikan. Seorang di antaranya, Syaikh Dr. Bakar Abu Zaid. Beliau menulis sebuah kitab berjudul “Adabul Hatif”  (Adab Menelepon) dengan sangat bagus, yang mendapat pujian.
Telepon genggam, ponsel (telepon seluler) atau HP (handphone) sesungguhnya sama seperti telepon biasa. Hanya saja ponsel memiliki beberapa fasilitas khusus yang tidak dimiliki telepon rumah biasa.
Salah satu yang membedakan adalah, ponsel lebih bersifat pribadi dan hanya dipegang oleh satu orang tertentu (pemiliknya). Berbeda dengan telepon rumah yang biasanya dipasang di tempat umum, misalnya rumah atau kantor.
Tidak disangkal, ponsel merupakan suatu anugerah yang besar. Sehingga dengan ponsel itu, seseorang bisa menyelesaikan banyak urusannya secara lebih cepat dan lebih mudah. Tetapi perlu diperhatikan pula adanya hal-hal yang bisa menyebabkan hilangnya nikmat syukur pada anugerah besar ini.
Ada beberapa catatan penting agar penggunaan piranti ini lebih bijak dan berhati-hati, sehingga penggunaan piranti ini benar-benar memberikan manfaat seperti yang diharapkan, serta tidak menyebabkan datangnya kemudharatan bagi si empunya.
Beberapa etika
Beberapa etika yang perlu diperhatikan dan dijaga berkaitan dengan penggunaan media digital ini antara lain:
Pertama: Menyingkat pembicaraan. Percakapan melalui media telepon hendaknya dilakukan sesingkat mungkin untuk menghindari pemborosan uang/pulsa jika tidak ada keperluan mendesak, dan guna tidak mengganggu lawan bicara dengan pembicaraan yang panjang. Maka disarankan bagi seseorang yang menelepon untuk menyingkat pembicaraannya ketika menanyakan suatu hal, menghindari pembicaraan yang terlalu lama berbasa-basi.
Hendaknya dia menahan diri untuk tidak terlalu sering menelepon tanpa keperluan yang benar-benar penting. Juga jangan suka mengumbar kata-kata saat menelepon. Karena ada sebagian orang yang betah berlama-lama saat menelepon hingga berjam-jam.
Dalam kitabnya Adabul Hatif, Al-Allamah Syaikh Bakar Abu Zaid berkata, “Hindarilah berlebihan dalam berbicara melalui telepon, sehingga menjadikanmu kecanduan menelepon. Mengingat banyak orang yang telah terjangkit penyakit ini. Sejak bangun tidur, ia sudah menyibukkan diri dengan menelepon dari rumah satu ke rumah yang lain, dan dari satu kantor ke kantor lainnya, sekedar mencari kepuasan belaka dan mengganggu orang lain. Terhadap orang seperti mereka ini, kita hanya bisa berdoa dan menasihatkan agar mereka segera berhenti dari kebiasaan buruknya yang berlebihan (dalam mengumbar kata) itu”. (Adabul Hatif: 32-33).
Kedua, Tidak menyusahkan penerima telepon. Misalnya menelepon orang dan mengujinya dengan pertanyaan: “Apakah kamu mengenalku?” Ketika dijawab “Tidak”, malah mencela dan menyalahkannya karena sudah tidak mengenalnya lagi atau karena tidak menyimpan nomor ponselnya. Padahal si penerima kadang lebih tua darinya, lebih alim atau terpandang. Mungkin dia memang tidak bisa menyimpan nomornya di ponsel atau disebabkan kapasitas ponsel yang penuh dan tidak mampu menampung nomor lebih banyak.
Maka selayaknya si peneleponlah yang harus memperkenalkan diri di awal pembicaraan jika memang ingin dikenali. Hindarilah cara menelepon yang menyusahkan tersebut.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, berkata: َأتَيْتُ النَِّبيَّ َفدَعَوْتُ، َفَقا َ ل النَِّبيُّ مَنْ هَ َ ذا؟ َفُقْلتُ: َأنَا، َفخَرَجَ وَهُوَ يَُقوْ ُ ل َأنَا َأنَا
Aku datang kepada Nabi, lalu aku memanggil beliau. Beliau bertanya:  Siapa?” Maka aku jawab: “Saya”. Beliau keluar sambil berkata:  “Saya… saya…” (menunjukkan beliau tidak suka dengan jawaban “saya” tersebut). (HR. Bukhari: 6250 dan Muslim 2155).
Ketiga: Menjaga perasaan penerima telepon dan tidak membuatnya tersinggung. Mungkin dia sedang sakit atau sedang di tempat yang tidak layak untuk ngobrol, misalnya di masjid atau saat pemakaman. Atau sedang berbicara di forum orang banyak yang dia tidak ingin memotong pembicaraan mereka, dan sebagainya. Bila ternyata panggilan tidak dijawab, atau dijawab dengan sangat singkat, maka hendaknya si penelepon memaafkan dan memaklumi keadaannya. Serta tidak berburuk sangka kepadanya. Dan bagi si penerima telepon hendaknya memberi tahu keadaannya, atau menjawab dengan singkat pada saat ada kesempatan, yang bisa dipahami oleh penelepon bahwa dia sedang berada di tempat yang belum bisa bicara panjang lebar. Dengan begitu akan lebih menenangkan hati dan jauh dari prasangka.
Keempat: Mematikan ponsel atau mengaktifkan tanpa nada (mode silent, shamit, diam) saat memasuki masjid. Tujuannya agar tidak mengganggu orang yang shalat dan mengurangi kekhusyu’an mereka. Jika terlupa mematikan ponsel atau memasang mode silent, lalu tiba-tiba ada yang menelepon, segeralah matikan atau hilangkan suaranya seketika itu juga. Karena sebagian orang membiarkan ponselnya tetap berdering, bahkan dengan nada musik yang mengganggu. Tidak dimatikan, tidak juga diredam suaranya dengan alasan takut melakukan gerakan selain gerakan shalat. Padahal perlu dia ketahui bahwa gerakannya mematikan ponsel tersebut adalah untuk kekhusyu’an shalatnya, bahkan untuk jama’ah lainnya secara umum.
Sebaliknya kita juga harus berlapang dada jika ada orang yang lupa mematikan ponselnya. Tidak serta merta menegurnya dengan keras dan memandangnya dengan sinis. Terutama jika dia orang yang mudah tersinggung, atau mudah marah. Karena mungkin saja dia tidak sengaja dan hanya lupa. Sehingga tidak seharusnya diperlakukan dengan perlakuan yang menyakitkan.
Cukuplah bagi kita teladan yang baik pada diri Rasulullah ketika beliau sangat berlemah lembut terhadap seorang Badui yang kencing di masjid. Beliau memerintahkan untuk menyiram bekas air kencing itu dengan setimba air.
Abu Hurairah berkata: “Seorang badui berdiri lalu kencing di masjid. Seketika itu juga orang-orang yang hadir menghardiknya. Tapi Nabi berkata pada mereka:  “Biarkan dia selesai. Lalu siramlah kencingnya dengan setimba air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit.” (HR. Bukhari)
Kelima: Menghindari penggunaan nada dering lagu dan musik. Karena di dalamnya terdapat larangan keharaman dan celaan terhadap akal orang yang menggunakan nada lagu dan musik tersebut. Karena hal ini sangat mengganggu, terlebih jika sampai dipergunakan dalam masjid atau majlis-majlis umum.
Keenam: Tidak menggunakan ponsel pada saat berada di majelis ilmu atau pada forum-forum besar secara umum. Karena hal itu bisa mengurangi wibawa majelis dan mengganggu orang yang sedang menuntut ilmu. Menyakiti perasaan pembicara yang sedang menyampaikan pelajaran atau materi, dan menimbulkan cercaan terhadap pengguna ponsel tersebut.
Disarankan agar tidak menelepon atau menjawab telepon ketika sedang berada dalam suatu pertemuan yang dipimpin oleh orang yang mulia, diisi oleh pembicara tunggal, atau terdapat orang yang lebih tua dan dimuliakan. Karena menelepon atau menjawab panggilan telepon pada saat itu bisa memutuskan pembicaraan dan mengganggu konsentrasi hadirin. Serta merusak etika berbicara dan bermajlis.
Abu Tammam berkata:  “Siapakah yang engkau buat murka atau kau bodohi, sedangkan ia membalasnya dengan kesabaran dan kearifan kau lihat dia memperhatikan pembicaraan dengan sungguh-sungguh dan dengan sepenuh hatinya padahal ia mungkin lebih memahaminya”
Menelepon atau menjawab telepon pada kondisi di atas dimaklumi apabila memang darurat atau ada kebutuhan mendesak yang dikhawatirkan hilangnya kesempatan setelah itu. Tentu dengan tetap menjaga agar tidak memperpanjang percakapan. Dimaafkan juga bagi pemimpin majlis atau orang tua untuk menelepon atau menjawab panggilan telepon. Begitu pula pada pertemuan biasa dengan keluarga atau teman-teman, maka tidak mengapa menerima atau menelepon.
Sangat bijaksana jika seseorang yang akan menelepon untuk minta izin terlebih dulu dan keluar dari forum.
Ketujuh: Jangan merekam pembicaraan atau mengaktifkan suara luar di tengah orang banyak tanpa sepengetahuan lawan bicara. Kadang hal itu terjadi ketika seseorang menelepon salah seorang temannya atau sebaliknya dia yang ditelepon, diam-diam dia merekam pembicaraan tersebut. Atau memperdengarkan suaranya melalui speaker luar, padahal di sekitarnya ada orang lain yang mendengar pembicaraan tersebut. Perbuatan ini tentu tidak pantas dilakukan oleh orang yang berakal, terutama jika pembicaraan itu adalah pembicaraan yang bersifat khusus atau rahasia. Hal ini bisa menjadi bagian dari jenis khianat atau bentuk adu domba. Lebih tidak pantas lagi jika lawan bicara adalah orang yang berilmu, lalu dia merekam semua yang dibicarakannya tanpa sepengetahuannya, kemudian dia sebarkan melalui media internet atau dia tulis ulang dengan melakukan penambahan dan pengurangan.
Syaikh Bakar Abu Zaid, dalam kitabnya Adabul Hatif  berkata, “Tidak boleh bagi seorang muslim yang menjaga amanah dan tidak menyukai bentuk khianat merekam pembicaraan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizinnya. Apapun bentuk pembicaraannya. Baik tentang agama maupun masalah dunia. Seperti fatwa, diskusi ilmiah, kajian ekonomi, dan sebagainya”. (Adabul Hatif: 28)
Beliau melanjutkan, “Apabila engkau merekam pembicaraannya tanpa izin dan pengetahuannya, maka itu termasuk makar, muslihat, danpengkhianatan terhadap amanah. Apabila engkau menyebarkan rekaman tersebut kepada orang lain maka lebih besar lagi khianatnya.
Lebih-lebih jika engkau mengedit, merubah pembicaraannya dengan mengurangi, dengan mendahulukan atau mengakhirkan atau bentuk bentuk lain dari bentuk penambahan atau pengurangan, maka engkau telah melakukan kesalahan yang bertingkat-tingkat dan engkau terjatuh pada pengkhianatan yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir.
Kesimpulannya, perbuatan merekam pembicaraan orang lain, baik melalui telepon atau media lainnya, jika tanpa sepengetahuan dan seizin orang tersebut, maka tindakan tersebut adalah tindakan maksiat, khianat, dan mengurangi keadilan seseorang. Tidak ada yang melakukannya kecuali orang yang dangkal ilmu agamanya, akhlak, dan etikanya. Terlebih jika pengkhianatannya bertingkat sebagaimana telah dijelaskan di atas. Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, jangan khianati amanah yang kalian emban dan jangan khianati saudara kalian”. (Adabul Hatif: 29-30).
Kedelapan:  Menjaga sopan santun dalam menulis pesan singkat. Kemampuan kirim-terima pesan singkat (SMS) memang merupakan salah satu fitur yang digemari pada ponsel. Namun pengguna ponsel yang berakal haruslah memperhatikan tatakrama dan aturan dalam ber-SMS. Hendaknya dia menulis SMS dengan bahasa yang indah, mengandung pelajaran, kabar gembira, pelipur duka atau menyenangkan. Bagus juga berisi pesan-pesan yang mengandung hikmah, dzikir, nasehat, kata mutiara atau semacamnya.
Kesembilan: Meneliti kebenaran suatu pesan. Jika suatu pesan singkat (SMS) mengandung suatu informasi, maka konfirmasikan dulu kebenarannya sebelum mengirimnya. Jika berisi suatu berita, pastikan dulu bahwa berita tersebut benar adanya. Karena mungkin berita itu akan diteruskan ke orang lain. Pengirim mestinya paham bahwa pesannya bisa saja berpindah tangan, dan tersebar kemana-mana. Bila pesan baik yang dia kirimkan, dia akan mendapatkan manfaatnya. Namun jika pesan buruk yang dia sebarkan, maka bersiaplah menuai akibatnya. Maka perhatikanlah pesan yang akan dia kirimkan itu, akan mendatangkan kebaikan ataukah justru berdampak buruk.
Hal-hal yang juga perlu diwaspadai adalah adanya kebiasaan menulis nasehat melalui pesan singkat untuk melakukan amalan-amalan tertentu tanpa memperhatikan hukumnya syar’i atau tidaknya.
Misalnya nasehat untuk melakukan puasa akhir tahun karena bertepatan dengan hari Senin, mengkhususkan doa tertentu dengan kebaikan atau keburukan seorang tertentu dan pada waktu tertentu, atau mengirim pesan pada seseorang dan mengharuskannya meneruskan pesan tersebut ke sepuluh orang lainya atau sejumlah orang tertentu. Hal seperti ini tidak layak dilakukan. Karena hal itu bisa menjerumuskan seseorang ke dalam hal-hal yang diada-adakan dan bid’ah.
Adapun saling menasehati agar mendoakan kaum muslimin, melaknat musuh-musuh agama, memanfaatkan waktu dan tempat dengan kebaikan dan semisalnya maka hal itu boleh. Tanpa mengkhususkan dengan doa tertentu.
Kesepuluh: Hindari pesan-pesan SMS yang tidak baik. Misalnya mengandung kata-kata jorok, celaan, gambar tak senonoh atau foto-foto porno. Atau ucapan yang memiliki dua makna, baik dan buruk. Pada saat awal membaca pesan tersebut yang ditangkap adalah makna buruk, namun setelah diamati dengan seksama diketahui bahwa maknanya adalah baik. Atau kalimat yang diputus dengan spasi cukup panjang sehingga lanjutan kalimat tersebut baru terbaca setelah menekan tombol ponsel. Semua itu menunjukkan perilaku dan etika yang buruk.
Al-Mawardi  berkata: “Dan yang termasuk perkataan buruk, yang wajib dijauhi dan musti dihindari adalah kata-kata yang bertolak belakang. Mulanya dipahami sebagai kata-kata buruk. Lalu setelah diteliti dan dipahami dengan benar ternyata bermakna baik”. (Adabud Dunya Wad Dien: 284).
Dilarang pula bercanda dengan berlebihan. Atau menggunakan kalimat-kalimat cinta, terutama terhadap wanita. Karena wanita sangat suka dipuji dan mudah tergoda rayuan. Ucapan lainnya yang juga dilarang adalah yang mengandung celaan, fitnah dan lainnya. Semua hal tersebut dilarang karena menyelisihi syar’i, merusak adab, dan bisa menghilangkan syukur terhadap nikmat pada perangkat ponsel ini.
Demikianlah berapa petunjuk dan peringatan penting seputar ponsel berikut etika-etika yang harus dilakukan dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang harus dihilangkan. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad SAW, seluruh keluarga, serta sahabatnya. [Diambil dari Al Jawaalul Adaab Wa Tanbihaat atau  Adabul Hatif (adab menelepon) karangan Muhammad bin Ibrahim AlHamd Terjemah dari Islamhouse.com. Editor : Abu Ziyad Eko Haryanto]

Adab dalam Islam

Artikel I
Bismillahirrahmanirrahim
MUKADDIMAH
Segala puji bagi Allah yang menciptakan kita, lalu menyempurnakannya; mendidik kita, lalu membaguskannya; dan memuliakan kita dengan mengutus Muhammad, Rasul utusan-Nya. Dengan memohon taufik-Nya, kami tuturkan bahwa:
Akhlak yang paling sempurna dan paling tinggi, amal yang paling bagus dan paling baik, adalah adab dalam beragamayang diikuti oleh orang-orang yang beriman dari tindak kerja Tuhan Semesta Alam dan dari akhlak para Nabi dan Rasul Allah.
Allah telah mendidik kita dengan aneka penjelasan yang tertulis di dalam Alquran. Dia mendidik kita melalui tuntunan Nabi-Nya, Muhammad Saw, yakni as-Sunnah, dengan kewajiban-kewajiban yang dipikulkan kepada kita. Karena itu, milik-Nya segala kenikmatan.
Demikian pula melalui para sahabat, para tabi’in, dan generasi sesudah mereka, yakni orang-orang beradab dari kalangan orang-orang beriman yang mengharuskan kita untuk mengikuti mereka.
Adab dalam beragama sangat penting kedudukannya dan jumlahnya pun banyak. Oleh karena itu, di sini kami hanya akan memaparkan sebahagiannya saja agar pembahasannya tidak bertele-tele, sehingga sulit untuk dipahami.
Adab Mukmin di Hadapan Allah
Seorang mukmin semestinya selalu menundukkan pandangan matanya dan memusatkan segenap perhatiannya hanya kepada Allah. Membiasakan diam dan menenangkan anggota-anggota badan. Bersegera melaksanakan perintah, menjauhi larangan, tidak suka membantah dan berakhlak baik. Membiasakan berzikir dan mensucikan pikiran. Mengendalikan anggota-anggota badan dan menenangkan hati. Mengagungkan kebesaran Tuhan, menjauhi sifat marah, dan menyembunyikan cinta. Memelihara keikhlasan. Tidak riya dan pamer. Mendakwah kebenaran. Tidak berpedoman kepada makhluk dan mengikhlaskan amal. Berkata benar, menyucikan pandangan dan mengupayakan pendekatan diri kepada Allah (taqarrub) secara terus-menerus. Tidak banyak memerintah, menyembunyikan keutamaan dan bersemangat memperbaiki diri. Marah ketika melanggar yang haram, mengekalkan haybah (keseganan akan kewibawaan Allah), menumbuhkan rasa malu, dan merasa takut (kepada Allah). Menjadikan sikap tenang sebagai keyakinan bathin dan tawakal sebagai kesadaran terhadap baiknya suatu ikhtiar.
Menyempurnakan wudhu tatkala merasa berat dan menunggu (kembali) shalat berikutnya setelah mengerjakan suatu shalat. Kalbu bergetar karena takut akan meninggalkan fardhu. Membiasakan bertaubat karena takut bergelimang dosa, dan memelihara keyakinan terhadap yang ghaib. Kalbu merasa takut saat berzikir dan cahayanya bertambah ketika menerima petuah. Mengembangkan sikap tawakkal ketika miskin dan ketika mampu mengeluarkan sedekah tanpa sikap kikir.
Adab Kaum Terpelajar
Adab seorang terpelajar antara lain adalah selayaknya terus-menerus mencari ilmu dan mengamalkannya. Memelihara ketenangan. Meninggalkan sifat takabur dan tidak memancingnya. Mengasihi para pencari ilmu dan tidak merespon orang-orang yang sombong. Menyelesaikan masalah orang-orang awam dan tidak merasa gengsi untuk mengatakan, “Saya tidak tahu.” Memberikan perhatian yang serius atas sebuah pertaanyaan. Tidak berpura-pura. Dan memperhatikan serta menerima sebuah argumentasi kebenaran, walaupun berasal dari lawan.
Adab Seorang Murid di Hadapan Guru
Seorang murid – di hadapan gurunya – selayaknya memulai setiap pertemuan dengan mengucapkan salam, tidak banyak bicara di hadapannya, ikut berdiri ketika ia berdiri dan tidak mengatakan, “Fulan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kamu katakan.” Tidak bertanya kepada teman ketika duduk di hadapannya. Tidak tertawa ketika guru sedang berbicara. Tidak mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya. Tidak memegang bajunya ketika dia berdiri. Tidak meminta penjelasan tentang suatu masalah di tengah perjalanan hingga sampai ke rumahnya. Dan tidak banyak bertanya ketka dia terlihat merasa jenuh.
Adab Guru Pengajar Alquran (Muqri)
Adab guru seorang pengajar Alquran antara lain adalah senantiasa duduk seperti duduknya seorang yang ketakutan, menyimak perintah, berusaha untuk paham, dan senantiasa mengharap kasih-Nya. Memperhatikan ayat-ayat mutasyabihah, memperhatikan tanda waqf, mengetahui tanda-tanda permulaan bacaan, menjelaskan ihwal hamzah, mengajarkan bilangan, dan membaguskan pengucapan huruf. Menerangkan manfaat dan pahala menamatkan bacaan Alquran.
Ia juga harus menyayangi kaum pemula yang mempelajari Alquran. Bertanya-tanya apabila ada murid yang tidak hadir. Meninggalkan perdebatan. Memulai dengan mengajarkan bacaan yang dibaca ketika shalat, atau – jika perlu – mengimami orang lain.
Adab Pembaca Alquran
Seorang pembaca Alquran seyogianya membiasakan duduk di hadapan Alquran seperti duduknya orang yang tawadhu’. Memusatkan perhatian. Menundukkan kepala, dan memohon izin sebelum membaca. Memohon perlindungan kepada Allah dan membaca basmalah serta berdo’a ketika selesai membaca Alquran.
Adab Pengajar Anak-Anak
Adab pengajar anak-anak diantaranya adalah memulai dengan perbaikan diri, karena mata dan telinga mereka tertuju ke arahnya. Apa-apa yangbaik menurut dirinya, akan menjadi baik pula bagi mereka, dan apa-apa yang jelek menurutnya, akan menjadi jelek pula di mata mereka. Membiasakan diam saat terduduk. Dan tidak melirik marah dengan pandangannya. Seyogianya, sebagian besar pengajarannya dilakukan dengan upaya ‘menakut-nakuti’ tidak memukul dan apalagi menyiksa.
Tidak banyak bercakap-cakap dengan mereka, karena mereka akan menjadi berani. Tidak membiarkan mereka bercengkrama, karena mereka akan menjadi kurang ajar. Tidak mengajak siapapun bersenda gurau di hadapan mereka. Menolak pemberian mereka dengan wira’i. Mencegah mereka dari sikap mengadu domba atau menghasut dan menghindarkan diri mereka dari mencari-cari aib orang lain. Mengajari mereka bahwa menggunjing itu jelek. Mengajak mereka untuk takut pada tindakan berdusta dan provokasi. Tidak menanyakan suatu ihwal yang menimpa mereka, sehingga membebaninya. Tidak banyak menuntut pada keluarga mereka, sehingga mereka mendiktenya. Mengajarkan pada mereka tentang bersuci dan shalat. Dan memberitahukan pada mereka tentang najis-najis yang harus dihilangkan.
Adab Periwayat Hadits
Adab periwayat hadits adalah harus bertujuan benar, menghindari dusta, menyampaikan hadits yang masyhur, meriwayatkan hadits dari orang-orang siqah dan meninggalkan hadits munkar. Tidak menyampaikan apa yang terjadi dikalangan ulama salaf. Mengenal zaman. Menjaga diri dari kesalahan, kekeliruan, kesalahan baca, dan penyimpangan.
Meninggalkan senda gurau, menghindari hasutan dan mensyukuri nikmat Allah karena dia telah berada di dalam derajat Rasulullah sebagai penyampai hadits. Memelihara sikap tawadhu’ dan menjadikan sebagian besar dari omongannya bermanfaat bagi kaum muslimin, baik berupa hal yang wajib, sunnah dan adab mereka di dalam menjelaskan kitab Allah Azza wa Jalla.
Tidak membawa ilmunya kepada para menteri (pejabat pemerintah) dan tidak mendatangi pintu para penguasa, sebab hal tersebut akan merendahkan kredibilitas para ulama dan menurunkan kualitas ilmu mereka tatkala bermaksud mengajarkannya kepada para penguasa dan orang-orang kaya. Tidak meriwayatkan hal-hal yang tidak diketahui asal-usulnya dan tidak membacakan apa-apa yang tidak ada di dalam kitabnya. Tidak berkata ketika ada orang yang menbacakan sesuatu kepadanya. Berhati-hati agar tidak mencampurkan satu hadits ke dalam hadits lain.
Adab Pencari Hadits
Senantiasa menulis hadits-hadits masyhur dan tidak menulis hadits-hadits garib, tidak juga menulis hadits-hadits munkar. Menukil hadits dari orang-orang yang siqah. Tidak melebihkan hadits masyhur dari hadits lain. Pencariannya tidak mengurangi kehormatan dirinya dan tidak melalaikan shalatnya. Menghindari pergunjingan, diam untuk mendengar, melazimkan diam di hadapan perawi hadits dan menaruh perhatian terhadap upaya perbaikan tulisannya. Tidak mengatakan, “Saya telah mendengar”, padahal belum pernah mendengar. Tidak menyebarkan hadits untuk mencari kemasyhuran, lalu menukil hadits dari orang-orang yang tidak siqah dan ahli makrifat, tetapi harus mengambil hadits dari ahli agama. Tidak menukil hadits dari orang yang tidak mengenal hadits yang bersumber dari orang-orang salih.
Adab Penulis
Seorang penulis selayaknya selalu berupaya memperindah tulisannya dan membaguskan goresan tangannya. Merajuk pada ilmu i’rab untuk menjelaskan kalimat, mengetahui perhitungan dan memiliki pendapat yang benar. Memakai pakaian yang bagus dan menggunakan wewangian. Mengetahui sejarah orang-orang terdahulu di antara para ahli saraf. Mengambil secara berangsur-angsur dari sumber-sumbernya dan mengetahui urusan yang utama. Bertoleransi dan berpeengalaman dalam hal-hal kebaikan. Menghindari kezaliman dan menjauhi segala yang haram. Menjaga harga diri, membaguskan pergaulan dan menjaga diri dari kehinaan. Menjauhi perkataan keji di dalam majlis, menghindari senda gurau dan percakapan, serta bujukan kepada para pelayan.
Adab Da’i Pemberi Nasihat
Adab pemberi nasihat diantaranya adalah senantiasa menghindari sikap takabur dan selalu memelihara rasa malu kepada Tuhannya. Senantiasa menampakkan pengharapan kepada sang Pencipta dan berkeinginan memberi manfaat kepada para pendengarnya. Mengoreksi diri untuk mengetahui aibnya. Memandang pendengar dengan pandangan kebenaran, berbaik sangka kepada mereka dengan bathin agama (batin ad-diyanah), dan tidak berharap pada mereka untuk memberi perlindungan. Metode pengajarannya lembut. Menyayangi para pemula. Meyakini bahwa dirinya dapat melaksanakan ucapannya, agar orang lain dapat mengambil manfaat dari yang dia katakan.
Adab Pendengar
Seorang pendengar semestinya senantiasa menampakkan kekhusyukan dan memelihara ketundukan. Menjernihkan hati dan berbaik sangka. Meyakini ucapannya dan membiasakan berdiam. Tidak banyak bertingkah dan senantiasa memusatkan perhatian. Serta menghindari menuduh (yang tidak-tidak).
Adab Ahli Ibadah
Ahli ibadah seyogianya mengetahui saat-saat beribadah, memahami wiridnya, membaguskan ucapannya dan berusaha meneteskan air mata. Memelihara kekhusukan dan melazimkan ketundukan. Menundukkan pandangan, menggetarkan hatinya, senantiasa memikirkan agamanya, memperhatikan waktu dan membiasakan diri untuk berpuasa. Bangun di malam hari, bersikap wira’i, dan mengurangi makan-minum. Selalu menunggu kedatangan ajal, menjauhi teman-temannya, meninggalkan syahwat, memelihara shalat – mengetahui keutamaan dan ihwal yang menyebabkan ketidaksempurnaannya. Tidak merasa butuh pada ilmu orang lain, selain pengetahuan dirinya dan hakikat keberadaannya.
Adab Ketika Menyendiri
Menjadi seorang yang faqih dalam masalah agama, mengetahui tentang permasalahan shalat, puasa, zakat dan haji. Meyakini bahwa kesendiriannya dapat menolak kejahatan dirinya. Menghadiri setiap pertemuan dan shalat berjamaah. Mengurus jenazah dan menjenguk orang sakit dengan tidak larut dalam perbincangan mereka. Tidak bertanya tentang cerita apa pun dari mereka yang akan mengotori kesucian kalbunya. Tidak tamak terhadap pemberian mereka, sehingga tidak merasa butuh atas bantuan tetangganya. Dengan demikian, maka waktunya terbagi tiga, yaitu: untuk shalat dan mengaji, sehingga beruntung; untuk membaca buku-buku, sehingga terpelajar; dan untuk tidur sehingga selamat. Membiasakan berzikir dan memperbanyak syukur, sehinga sempurna urusannya. Jika memiliki keluarga, berbicaralah dengan mereka. Bersungguh-sungguhlah dalam kesendiriannya, sehingga dapat mengukur kualitas pengasingannya.
Adab Sufi
Seoang ahli sufi selayaknya tidak banyak memberi perintah, meninggalkan syath (artificial) di dalam ungkapannya, berpegang pada ilmu syariat, membiasakan bekerja keras, bersungguh-sungguh dan tidak terlalu akrab dengan manusia. Meninggalkan popularitas dalam hal berpakaian dan menampakkan keindahan, bersikap tawakkal, memilih kefakiran, membiasakan berzikir dan menyembunyikan rasa cinta. Sellu berupaya memperbagus kualitas pergaulan. Menjaga diri dari perilaku homoseksual dan lesbian, dan senantiasa mempelajari Alquran.
Adab Orang Mulia
Senantiasa memelihara kemuliaan, tidak memperalat aspek keturunan, tidak mengandalkan dengan usaha, dan takut kepada Tuhannya. Menyayangi orang yang berada di bawahnya. Dan tidak berusaha menyamai orang yang setara dengannya.
Mengetahui keutamaan ahli ilmu walaupun dia setingkat atau lebih tinggi daripada mereka didalam masalah keilmuan. Mengikuti orang-orang yang memahami agama dari kalangan ahli fiqh dan Alquran. Menempa akhlak. Menjaga ucapannya ketika sedang marah dan berkhutbah. Memuliakan kawan duduk. Menyambungkan persaudaraan. Melindungi kerabat. Membantu tetangga. Dan menghias teman-temannya dengan keutamaan dirinya.
Adab Tidur
Senantiasa bersuci sebelum tidur. Tidur pada sisi badan sebelah kanan. Berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla hingga tertidur. Berdo’a dan memuji Allah ketika bangun dari tidur.
Adab Shalat Tahajjud
Mengurangi makan dan minum. Menghiasi waktu siang dengan menjauhi pergunjingan, berdusta dan ucapan-ucapan yang tidak berfaedah. Meninggalkan pandangan terhadap hal-hal yang haram. Bangun dari tidur dengan penuh rasa takut. Memperbaiki wudhu, memandang ke kerajaan langit, berdo’a dan menghadirkan hati di dalam shalat agar bisa memahami bacaannya.
Adab Memasuki Kakus
Hendaklah seseorang itu membaca basmalah dan memohon perlindungan kepada Allah (isti’azah) sebelum ia memasuki kakus. Membuka pakaian dengan lembut setelah berjongkok. Mengusapkan tangan pada tanah setelah beristinja dengan air. Menutup aurat sebelum keluar dari kakus. Membaca hamdalah dan bersyukur setelah keluar dari kakus.
Adab Memasuki Kamar Mandi
Menutup aurat dan berusaha tidak memandang auratnya. Mencari kesendirian, tidak berkata apa-apa, tidak memalingkan muka ke kanan ataupun ke kiri, tidak mengucapkan salam dan duduk dengan santai.
Mencuci kemaluan (bila sedang junub) sebelum memasuki kamar mandi dan mencuci kedua kaki dengan air dingin apabila keluar, karena hal itu dapat menghilangkan sakit kepala.
Adab Berwudhu
Bersiwak dan membiasakan berzikir sambil membasuh anggota wudhu. Merasakan ketakziman kepada Yang Dituju dan bertobat kepada-Nya dari segala dosa. Diam setelah bersuci hingga memasuki waktu shalat. Bersuci dilakukan setelah mencukur kumis, bulu ketiak dan bulu kemaluan, serta setelah memotong kuku. Mencuci sela-sela jari, membersihkan lubang hidung serta membersihkan pakaian dan bada
n.
Adab Memasuki Masjid
Berjalan mulai dengan kaki kanan, menghilangkan kotoran dari sandal, menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla dan memberi salam kepada orang-orang yang telah hadir terlebih dahulu. Apabila masjid kosong, berilah salam kepada diri sendiri. Memohon kepada Allah agar dibukakan pintu-pintu rahmat-Nya.
Duduk menghadap kiblat, melekatkan fungsi muraqabah (control Allah atas diri sendiri), mengurangi berbicara dan menghindari bicara keras. Tidak mengeraskan suara di dalam masjid dan tidak menghunus pedang. Apabila membawa pedang, peganglah tangkainya. Tidak melakukan pekerjaan, mencari benda yang hilang, melakukan jual beli, dan melakukan persetubuhan
Apabila keluar dari masjid, dahulukan kaki kiri dan memohon kepada Allah akan keutamaan karunia-Nya.
Adab Ber’itikaf
Senantiasa berzikir, memusatkan perhatian, menghindari bicara, selalu diam di tempat dan tidak berpindah-pindah. Menahan nafsu dari apa yang diinginkan, menolak kesenangan nafsu dan memaksanya untuk taat kepada Allah ‘Azza wa jalla.
Adab Mengumandangkan Azan
Seorang muazin hendaklah betul-betul mengenal waktu shalat, baik pada waktu musim panas maupun musim dingin. Menundukkan pandangan mata ketika menaiki menara azan. Berpaling ke kanan dan ke kiri di dalam azan ketika mengucapkan “hayya ‘ala as-salah dan hayya ‘ala al-falah” dan memperbagus bacaan azannya serta mempercepat bacaan iqomat.
Adab Imam
Seorang imam seyogianya mengetahui rukun-rukun shalat dan sunnah-sunnahnya. Memahami hal-hal yang dapat membatalkan dan merusak shalatnya. Tidak menjadi imam bagi suatu kaum yang tidak menyukai dirinya. Menjadikan barisan di belakangnya adalah para ahli ilmu. Meminta mereka untuk meluruskan barisan danmenasihati mereka dengan lemah lembut. Tidak membaca surat-surat yang panjang, sehingga mereka jemu; tidak memanjangkan tasbih, sehingga mereka bosan; dan tidak pula meringankannya, sehinga hilang kesempurnaan shalatnya. Sebaliknya mengatur shalat sesuai dengan kemampuan orang yang paling lemah di antara mereka.
Menyempurnakan ruku’ dan sujud, sehingga mereka merasa nyaman (tuma’ninah), diam sejenak sebelum dan sesudah membaca surat al-fatihah, dan juga ketika selesai membaca surat-surat setelahnya. Menunggui orang yang merasa sulit di dalam ruku, selama tidak melampaui batas yan wajar. Menanti tetangga yan belum dating selama tidak takut akan mengakhirkan waktunya. Berhenti sejenak diantara dua salam. Ketika selesai shalat, mengharap karunia Allah dengan penuh asa takut. Memperbanyak rasa syukur kepada Allah dan memelihara zikir kepada-Nya dalam segala kondisi.
Adab Shalat
Seorang muslim yang hendak melakukan shalat, selayaknya bersikap rendah hati, memelihara kekhusyukan dan menampakkan kehinaan. Menghadirkan kalbu, menghilangkan rasa was-was dan menghindari keraguan, baik lahir maupun batin.
Menenangkan anggota badan, menundukkan kepala dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Menghayati bacaan dan mengucapkan takbir dengan penuh ketakziman. Melakukan ruku’ dengan penuh ketundukkan, bersujud dengan penuh kekhusukan, bertasbih dengan penuh pengagungan, mengucapkan syahadat dengan penuh kesaksian, dan memberi salam denan penuh kasih sayang. Mengakhiri shalat dengan penuh rasa takut dan berusaha mencari keridhaan-Nya.
Adab Membaca Alquran
Hendaklah membiasakan diri dengan sikap tenang dan rasa malu. Menjauhi perbuatan sia-sia dan perkataan keji. Memelihara sikap tawadhu dan membiasakan untuk menangis.
Adab Berdo’a
Seyogianya menghadirkan kekhusyukan di dalam kalbu, memusatkan perhatian, menampakkan kehinaan, berbaik sangka, merendahkan diri, dan menampakkan sikap butuh. Memohon kepada Allah seperti permohonan orang yang sedang tenggelam kepada orang yang dapa menyelamatkannya. Mengetahui hina kedudukan dirinya dan besarnya keagungan Allah sebagai tempat memohon. Membentangkan kedua telapak tangan ketika memohon. Meyakini bahwa do’anya akan dikabulkan dan takut terhadap hal-hal yang mendatangkan kegagalan. Senantiasa menanti kelapangan dan menjauhi permusuhan. Memperbagus maksud dan pengharapan. Mengusapkan telapak tangan ke wajah setelah selesai berdo’a.
Adab Shalat Jum’at
Hendaklah mempersiapkan diri sebelum tiba waktu shalat Jum’at. Segera bersuci sebelum masuk waktunya. Mandi dan mengenakan pakaian bersih. Tidak melangkahi tengkuk orang lain. Menghindari perbincangan dan memperbanyak zikir. Mengambil tempat duduk dekat imam dan mendengarkan apa yang disampaikan khatib. Setelah selesai menunaikan shalat, kembali menyebar (di muka bumi) ntuk mencari ilmu dan berjalan dengan tenang.
Tidak menjalinkan jemari. Memendekkan langkah, membiasakan bersikap tunduk, dan memperbanyak syukur kepada Zat Yang maha Pemberi rizki. Memasuki masjid dengan khusyu’ dan memberi salam. Berusaha untuk tidak melakukan shalat setelah khatib duduk di atas mimbar. Menjawab salam yang diberikan oleh khatib. Menghindarkan diri dari berbicara, membulatkan tekad untuk menerima pelajaran, dan tidak berpaling ketika khatib menghadap dan berkhutbah kepadanya. Tidak melakukan shalat sebelum khatib turun dari mimbar dan sebelum muazin selesai mengumandangkan iqomat.
Adab Seorang Khatib
Para khatib hendaklah mendatangi masjid dengan tenang dan penuh wibawa. Memulai khutbah dengan memberi salam dan duduk dengan rasa takut disertai ketakziman kepada Allah. Menghindarkan diri dari percakapan sambil menunggu waktu tiba. Melangkah menuju mimbar dengan tenang, seakan-akan ia ingin menunjukkan perkataannya kepada Zat Yang Maha Perkasa. Menaiki mimbar dengan penuh rasa khusyu’. Berpegangan pada pegangan tangga mimbardan naik ke atas sambil berzikir. Memandang kepada hadirin dengan memusatkan perhatian dan mengucapkan salam kepada mereka sebagai pertanda agar mereka memperhatikan khutbahnya. Duduk mendengarkan azan dengan penuh rasa takut kepada Zat Yang maha Kuasa.
Mulai berkhutbah dengan sikap tawadhu’ dan tidak memberi isyarat dengan jari. Meyakini bahwa ucapannya bermanfaat. Mengisyaratkan pada hadirin untuk berdo’a. kemudian turun dari mimbar dengan diiringi iqomat yang dilantunkan oleh muazin. Tidak bertakbirotul ihram sebelum para jamaah terdiam. Memulai shalat dan memperbagus bacaannya.
Adab di Hari Raya
Menghidupkan malam hari raya (dengan takbir, tahlil dan tahmid – pent) dan mandi di pagi harinya. Membersihkan badan dan memakai wewangian. Terus-menerus melantunkan takbir, memperbanyak zikir, melazimkan kekhusyukan, serta bertasbih dan bertahmid di sela-sela takbir. Diam untuk mendengarkan khutbah ‘id setelah shalat hari raya ditunaikan. Makan sedikit sebelum keluar dari rumah jika hari raya itu adalah hari raya Idul Fitri. Pergi ke tempat shalat melalui suatu jalan dan pulang ke rumah melalui jalan yang lain. Kembali dengan rasa belas kasih karena takut kepada Zat Yang maha Ghaib.
Adab di Saat Gerhana
Memelihara rasa takut dan menampakkan kecemasan. Segera bertobat dan tidak merasa jemu (untuk bertobat). Bergegas menegakkan shalat. Berdiri lama untuk melaksanakan shalat. Dan senantiasa memelihara kewaspadaan.
Adab Shalat Istisqa
Hendaklah berpuasa sebelum melaksanakan shalat istisqo (shalat untuk meminta hujan). Diawali dengan bertobat dan menghindari sikap-sikap zalim. Mencurahkan segenap perhatian dan tidak membanggakan diri. Mandi sebelum keluar rumah. Membiasakan dii untuk diam dan memperhatikan segala hal yang dilarang. Mengakui segala dosa yang mendatangkan siksa dan bertekad tidak akan mengulanginya. Diam untuk mendengarkan khutbah, bertasbih di sela-sela takbir, memperbanyak istighfar dan membalikkan jubah sambil berdo’a.
Adab Orang Sakit
Senantiasa mengingat mati dan bersiap-siap menghadapinya dengan bertobat. Membiasakan diri memuji dan mengagungkan Allah. Bersikap rendah hati sambil terus berdo’a. menampakkan kelemahan dan pengharapan. Memohon kesembuhan dan meminta bantuan dari Zat Yang Pemberi kesembuhan. Menampakkan rasa syukur ketika ada kekuatan dan tidak mengeluh. Memuliakan orang yang menemani dan tidak melakukan jabat tangan.
Adab Bela Sungkawa
Bersikap rendah hati, menampakkan kesedihan dan tidak banyak berbicara. Tidak tersenyum, karena hal itu dapat menyebabkan kedengkian.
Adab Mengantar Jenazah
Memelihara kekhusyukan, menundukkan pandangan dan menghindari pembicaraan. Memperhatikan si mayit seraya mengambil pelajaran. Memikirkan simulasi jawaban-jawaban atas pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Bertekad untuk bersegera memenuhi tuntutan-tuntutan kewajiban. Cemas akan menyesali segala apa yang telah berlalu ketika dating kematian.
Adab Bersedekah
Hendaklah memberi sedekah sebelum diminta. Menyembunyikan sedekah, baik ketika memberi maupun setelah memberi. Bersikap ramah kepada peminta, tidak tergesa-gesa menolak permintaannya, dan berkata pelan jika dia meminta dengan suara yang perlahan.
Menghindari sikap bakhil dengan memberi apa yang diminta atau menolaknya dengan ramah. Jika Iblis – semoga Allah melaknatnya – membisikkan bahwa peminta itu tidak berhak menerima sedekah, maka ingatlah jangan sekali-kali menahan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab dia berhak atas harta tersebut.
Adab Peminta-minta
Menampakkan kefakiran yang sebenarnya. Menyampaikan permintaan dengan perkataan lemah lembut. Menerima pemberian – walaupun sedikit – seraya bersyukur dan berdo’a untuk kebaikan. Jika ditolak, pulanglah dengan sopan dan penuh kerelaan. Tidak mengulang-ulang permintaan dan tidak bersikap memaksa.
Adab Orang Kaya
Memelihara sikap rendah hati, menjauhi sikap sombong dan senantiasa bersyukur. Menggunakan hartanya untuk berbuat kebajikan. Bersikap ramah kepada orang miskin dan senantiasa menerima kedatangannya. Menjawab salam kepada setiap orang yang mengucapkannya dan tidak menyembunyikan kekayaan. Bertutur kata lembut, bersikap ramah, dan membantu orang lain demi kebaikan.
Adab Orang Miskin
Orang miskin seyogianya memelihara sikap qonaah, menyembunyikan kemiskinan, tidak menampakkan kehinaan dan tidak merendahkan diri. Menjauhi sifat rakus, menjaga harga diri dan menampakkan kecukupan kepada orang-orang dermawan dari kalangan ahli agama. Menghormati orang-orang kaya tanpa mengharap kebaikan mereka. Menampakkan kecukupan kepada mereka tanpa mengharap pemberian dari mereka. Tidak bersikap sombong dan tidak menghinakan diri. Menjaga kalbu ketika memandang mereka dan berpegang teguh pada agama ketika menyaksikan kehidupan mereka.
Adab Pemberi Hadiah
Memandang dengan sikap yang utama kepada orang yang diberi hadiah. Menampakkan kebahagiaan atas penerimaannya. Berterima kasih ketika menyaksikan hadiahnya diterima. Membawa sendiri hadiah tersebut kepadanya, meskipun banyak.
Adab Penerima Hadiah
Menunjukkan kegembiraan atas pemberian hadiah, walaupun sedikit. Mendo’akan pemberi hadiah apabila dia telah pergi dan menampakkan wajah yang berseri ketika dia hadir. Membalas pemberiannya apabila mampu dan memujinya jika memungkinkan. Tidak merendahkan diri di hadapannya, menjaga diri dari kecacatan iman karenanya, dan menjauhi ketamakan bersamanya.
Adab Berbuat Kebajikan
Senantiasa mengawali tindak kebajikan sebelum diminta. Bersegera untuk mengerjakannya ketika berjanji. Banyak melakukan kebajikan. Menyembunyikan tindak kebajikannya dari sikap pamer. Tidak banyak memberi setelah diterima kebajikannya. Berupaya untuk terus senantiasa melaksanakannya. Dan waspada dari tindak penghentiannya.
Adab Berpuasa
Mencari makanan yang halal dan baik. Tidak bertengkar dan meningalkan pergunjingan. Menghindari perbuatan bohong, tidak menyakiti orang lain, dan menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan tercela.
Adab di Dalam Perjalanan Ibadah Haji
Membelanjakan harta secara baik. Berbuat baik kepada orang yang membawa perbekalannya. Membantu teman. Menemani orang yang kendaraannya rusak. Mendermakan sebagian dari bekalnya. Berakhlak terpuji, bertutur kata baik, dan bersenda gurau tanpa disertai maksiat serta senantiasa mencari kelurusan.
Menampakkan kegembiraan ketika memandang kawan bicara. Mendengarkan pembicaraannya, tidak menihilkan kecemasannya, dan berusaha melupakan kesalahannya. Berterima kasih atas bantuannya serta senantiasa memuliakan dan membantunya.
Adab Berihram
Hendaklah mandi, kemudian mengenakan pakaian bersih, dan memakai wewangian. Mengurus orang-orang yang lapar, membaca talbiyah dengan penuh ketakziman, dan mengeraskan suaranya sebagai bentuk kegembiraan karena bisa memenuhi seruan-Nya. Bertawaf untuk mengagungkan tempat suci, bersa’i untuk mencari keridhaan, dan berwukuf sebagai persaksian terhadap hari kiamat.
Memandang masy’ar (tempat menunaikan ibadah haji) dengan pandangan kasih sayang, memaknai cukur rambut sebagai symbol kebebasan, dan menganggap penyembelihan kurban sebagai symbol penebusan dosa. Memandang pelemparan batu (jumrah) sebagai wujud ketaatan. Menganggap tawaf ziyadah sebagai pemandangan kehidupan yang tidak terbatas, dan penolakan atas hakikat kesedihan. Dan ketika saatnya pulang, dipenuhi keinginan untuk kembali lagi.
Adab Memasuki Kota makkah
Memasuki tanah haram dengan pengagungan dan memandang kota Makkah dengan kesedihan. Memandang Masjid al-Haram dengan keutamaan dan memandang Baitullah dengan takbir dan tahlil. Membiasakan tawaf dan tetap mengerjakan umrah. Memasuki Baitullah dengan mengagungkan kesuciannya dan membiasakan diri untuk bertobat setelah memasukinya.
Adab Memasuki Kota Madinah
Hendaklah memasuki kota Madinah dengan penuh wibawa dan sikap tenang. Memperhatikan syariat yang berkaitan dengannnya dan memandangnya dengan pandangan yang mulia. Mendatangi Masjid Nabi Saw dan mimbarnya, seakan-akan menyaksikan shalat dan khutbah beliau. Berziarah ke kubur Nabi Saw, seakan-akan memandang pribadinya yang mulia. Berbicara kepada beliau dengan suara lembut, seakan-akan melihat dengan mata kepala sendiri laiknya kepada teman duduknya. Memulai ziarah dengan ucapan salam kepada beliau.
Selanjutnya, mengucapkan salam kepada dua orang yang terbaring di sampingnya (Abu Bakr as-Siddiq dan ‘Umar Ibn al-Khattab). Serta mempersaksikan kecintaan keduanya atas beliau. Mempersaksikan perjalanan beliau diantara mereka. Dan respon beliau kepada mereka. Menyaksikan ketakziman mereka kepada beliau dan sambutan mereka kepada beliau. Dan jika hendak meningalkan kuburan beliau, janganlah dengan membelakanginya.
Adab Pedagang
Seorang pedagang selayaknya tidak duduk di jalanan tempat lewatnya kaum muslimin, sehingga akan mempersempit gerak mereka. Ia harus mempekerjakan anak dewasa yang tidak berlaku zalim dalam menakar dan tidak mengurangi timbangan; menyuruh dia agar menyempurnakan takaran an tidak tergesa-gesa dalam menimbang. Ketepatan timbangan dirhamnya seperti dua sayap burung yang terbang dan keseimbangannya seperti timbangan, panjang benangnya, tepat arah jarumnya, jelas ayunannya, dan seimbang bandulannya.
Pada setiap harinya, sebelum memulai aktivitas jual beli, ia harus memeriksa timbangannya dan membersihkan sisanya. Memerintahkan pekerjanya untuk tepat dalam menakar minyak. Apabila yang dating orang yang mulia, muliakanlah. Apabila yang dating adalah tetangga, utamakanlah. Apabila yang dating orang yang lemah, kasihanilah. Dan apabila yang datang selain mereka, berbuat adillah. Juallah barang-barang dagangan dengan harga yang sepatutnya; jika murah harganya, niscaya banyak pelanggannya. Namun jika mahal, niscaya sedikit pelanggannya.
Pada saat menunggui barang dagangan, hendaklah berupaya terus untuk mengkaji Alquran. Menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan dan dari pemuda yang berparas cantik. Tidak membeli barang dagangan dengan harga murah dari seorang bodoh yang pemboros. Tidak menghardik kaum peminta-minta. Dan tidak melarang pembeli untuk menawar.
Jika ia adalah orang yang mampu mengurusi persoalannya sendiri, maka tentu ia lebih mampu untuk mengurusi masalah yang mesti dilaksanakan pekerjanya. Ia harus membeli timbangan, ukuran, dan takaran dari orang-orang yang sudah dikenal terpercaya. Ketika menjual barang dagangan, ia tidak boleh memujinya dan ketika membelinya, tidak boleh mencelanya. Ketika menawarkan barang, ia harus menawarkan yang sebenarnya. Menghindari berkata buruk ketika meminta pengurangan harga barang, dan tidak berkata bohong ketika sedang bertransaksi. Meminimalisir interaksi dengan para warga pasar, dan tidak banyak bersenda gurau. Serta menjaga diri agar tidak banyak mengundang permusuhan.
Adab Penukar Uang
Seorang penukar uang seyogianya mempunyai itikad yang baik dan mampu menunaikan amanat. Berhati-hati terhadap uang riba dan bersegera membayar kredit. Tidak memberikan uang yang jelek. Menyempurnakan timbangan dan tidak berniat menipu. Senantiasa memeriksa neracanya karena takut berkurang akurasi takarannya.
Adab Tukang Emas
Hendaklah bekerja dengan ketulusan dan bersungguh-sungguh di dalam kedermawanan. Tidak memperlambat pekerjaan, menepati janji, dan tidak melampaui batas di dalam menetapkan nilai upah.
Adab Makan
Hendaklah senantiasa membasuh tangan sebelum dan sesudah makan. Mulai dengan membaca basmalah. Makan dimulai dari orang yang berada di sebelah kanan terlebih dahulu, lalu orang berikutnya. Mengecilkan suap dan memperhalus kunyahan. Tidak memandang wajah teman yang sedang makan. Tidak makan sambil bersandar. Tidak makan ketika merasa kenyang. Hendaklah memberi alas an yang tepat ketika kenyang, sehingga membuat malu tamu atau orang yang memerlukan makanan lebih banyak. Memulai pengambilan makanan dari sisi piring dan tidak mulai dari tengahnya. Menjilat jemari ketika selesai makan dan membaca hamdalah. Tidak berbicara masalah kematian agar tidak menggelisahkan para hadirin.
Adab Minum
Hendaklah melihat ke dalam gelas sebelum meminumnya. Membaca basmalah sebelumnya dan mengucapkan hamdalah sesudahnya. Menyesap air dan tidak menegaknya. Bernafas ketika minum sebanyak tiga kali, diikuti dengan membaca hamdalah lalu membaca basmalah ketika hendak meminumnya lagi.
Tidak minum sambil berdiri. Menawari minum kepada yang lain, jika ada orang lain bersamanya.
Adab Laki-laki Ketika Hendak Menikah
Seorang laki-laki yang hendak menikah selayaknya terlebih dahulu mencari wanita yang baik agamanya, lalu yang cantik, dan yang kaya – jika menginginkannya. Tidak membuat perjanjian atas pa yang diberikan., dan tidak menyembunyikannya. Tidak melamar wanita yang sudah dilamar oleh oang lain. Tidak menyelenggarakan resepsi pernikahan yang disertai hal-hal yang dapat menjauhkan diri dari Tuhannya, dan menghinakan dirinya. Tidak duduk berduaan (dengan istrinya) ketika ada orang lain yang melihatnya. Dan tidak menciumnya di tengah-tengah keluarganya.
Hendaklah terlebih dahulu mencari informasi tentang keberadaan wanita yang akan dinikahinya. Tidak mengutus orang yang suka berdusta dan tukang fitnah, melainkan mengutus orang terpercaya. Tanyaka tentang agamanya, ketekunan shalatnya, perhatian kepada ibadah puasa, rasa malu dan kebersihannya, bagus-jelek tutur katanya, kebiasaan tinggal di rumahnya, dan kebaikan kepada kedua orang tuanya.
Berlaku sopan pada saat memandangnya sebelum akad dan menyampaikan perkataan yang baik sesudah akad. Menyelidiki perangai dan agama orang tuanya, serta ihwal agama dan perilaku ibunya.
Adab Perempuan Ketika Ada laki-laki Melamarnya
Seorang wanita yang hendak dilamar, seyogiany meminta kepada orang kepercayaan keluarganya untuk menanyakan tentang mazhab si pelamar, agama, keyakinan, kehati-hatian, dan kejujurannya dalam menepati janji. Menanyakan kepada kerabat laki-laki tersebut dan kepada orang yang mendatangi rumahnya tentang ketekunannya dalam melaksanakan shalat, shalat berjamaahnya, dan ketulusannya di dalam perilaku dan perbuatannya.
Kecintaannya kepada seorang laki-laki harus karena factor agamanya dan bukan karenahartanya; atau harus karena tingkah lakunya dan bukan karena popularitasnya. Berniat untuk menikahinya atas dasar qana’ah dan menaati perintah-perintah suaminya. Itulah yang akan mengokohkan persahabatan dan meneguhkan kecintaan.
Adab Bersetubuh
Pasangan suami istri, ketika hendak bersetubuh, seyogianya memakai wewangian. Bertutur kata lembut, menampakkan kecintaan, mencium pasangan dengan kemesraan, dan memeluknya dengan penuh rasa cinta.
Memulai persetubuhan dengan membaca basmalah. Tidak melihat kemaluan, karena hal itu akan mewariskan kebutaan. Menutup bagian bawah pinggang dan tidak menghadap kiblat.
Adab Suami Istri
Pasangan suami istri sudah seharusnya memperbagus pergaulan dan bertutur kata lembut. Saling menampakkan kecintaan dan menumbuhkan kesenangan dalam berduaan. Saling memaafkan kekeliruan dan tidak mengungkit-ungkit kesalahan masing-masing.
Suami hendaklah memelihara harga diri istri dan tidak berdebat dengannya. Memberinya uang belanja tanpa kekikiran dan senantiasa memuliakan keluarganya. Membiasakan berjanji tentang hal-hal yang baik dan memperbesar rasa cemburunya terhadap sang istri.
Adab Istri Kepada Suami
Seorang istri harus senantiasa memelihara sikap malu terhadap suami, menghindari perdebatan dengannya, dan memelihara ketaatan kepadanya. Diam saat suami berbicara, menjaga diri ketika dia tiada, dan tidak mengkhianatinya dalam menggunakan harta kekayaannya.
Senantiasa memakai wewangian, membersihkan mulut, dan mengenakan pakaian bersih. Menampakkan sifat qana’ah, mencurahkan segenap kasih sayang, dan sebabtiasa berhias untuknya. Memuliakan keluarga dan kerabatnya. Memandang keberadaanya dengan keutamaan dan menerima perlakuannya dengan rasa syukur. Menampakkan rasa cinta ketika dekat dengannya dan memperlihatkan kegembiraan ketika memandangnya.
Adab Suami Kepada istri
Senantiasa memelihara shalat Jum’at dan shalat berjamaah. Memakai pakaian bersih dan selalu menyikat gigi. Tidak memakai pakaian yang mewah, dan tidak juga yang gembel. Tidak memanjangkan pakaian atas dasar kesombongan, dan tidak memotongnya pendek karena ingin dianggap orang miskin. Tidak memandang kepada selain muhrimnya. Tidak meludah ketika sedang bercakap-cakap. Tidak banyak duduk di pintu rumah bersama tetangganya. Tidak banyak berbicara kepada teman-temannya tentang istrinya dan apa yang ada dalam rumahnya.
Adab Istri Kepada Dirinya
Senantiasa membiasakan diri tinggal di dalam rumah. Duduk di dalam rumah dan tidak banyak keluar rumah. Senantiasa memperhatikan perkataan tetangganya dan tidak bergaul dengan mereka, kecuali sebatas keperluannya saja. Menyenangkan suaminya ketika dipandang. Menjaga diri ketika suami tidak ada di sisinya. Tidak keluar dari rumah; kalaupun keluar dengan cara sembunyi-sembunyi, mencari tempat-tempat yang sepi dan yang dapat menjaga keperluannya, bahkan berpura-pura tidak tahu kepada orang yang mengenalnya.
Keinginannya adalah memperbaiki diri, mengatur rumah tangga, dan selalu bersiap menyambut ibadah shalat dan puasa. Memperhatikan aib dirinya dan memikirkan agamanya. Memelihara diamnya dan menundukkan pandangannya. Mewaspadai Tuhannya dan selalu menyebut-Nya. Mentaati suaminya dan selalu mendorongnya untuk mencari harta halal dan tidak menuntut pemberian yang banyak.
Senantiasa menampakkan rasa malu dan menghindari perkataanyang keji. Bersikap sabar dan banyak bersyukur. Memuliakan dirinya. Memperhatikan keadaan dan kemampuan dirinya. Dan jika salah satu kawan suaminya minta izin untuk masuk, sedangkan I rumah tidak ada suami, maka ia jangan meminta banyak penjelasan dan jangan terlalu banyak bicara. Demi untuk menjaga rasa cemburu antara dirinya dan suaminya.
Adab Mengetuk Pintu
Berjalan di samping dinding dan tidak menghadap ke pintu. Bertasbih dan bertahmid sebelum mengetuk pintu, lalu mengucapkan salam. Tidak memperhatikan orang yang berada di dalam rumah. Setelah memberi salam, harus meminta izin. Jika diizinkan masuklah, tetapi jika tidak diizinkan, kembalilah dan jangan berusaha menunggu. Apabila ditanya oleh tuan rumah, jangan mengatakan, “Saya,” melainkan katakanlah, “si Fulan.”
Adab Duduk di Tepi jalan
Senantiasa menundukkan pandangan. Membantu orang yang teraniaya dan menolng orang yang meminta pertolongan. Membantu orang lemah dan membimbing orang tersesat. Senantiasa menjawab salam. Memberi kepada para peminta-minta dan tidak memalingkan muka dari mereka.
Senantiasa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan penuh persahabatan dan keramahan. Jika ada orang yang mengerjakan kemungkaran, cegahlah dengan ancaman dan tindakan keras. Tidak mendengarkan tukang fitnah (as-sa’i) kecuali ada bukti. Tidak memata-matai dan tidak berprasangka terhadap orang lain, kecuali hal-hal yang baik.
Adab Pergaulan
Apabila memasuki suatu majlis atau jamaah, hendaklah Anda mengucapkan salam dan duduk di tempat yang telah tersedia serta tidak melangkahi orang lain. Mengkhususkan salam kepada orang ang paling terdekat.
Apabila diuji saat berkumpul dengan orang banyak, janganlah ikut ambil bagian dalam percakapan mereka danjangan mendengarkan kebohongan-kebohongan mereka. Tidak menghiraukan perkataan buruk mereka. Menghindari pertemuan dengan mereka, kecuali ketika ada keperluan.
Tidak meremehka seseorang, sehingga dia akan menjadi binasa; sebab bisa jadi ia tidak tahu kalau orang tersebut lebih baik dan lebih taat kepada Allah darpada dirinya. Tidak memandang mereka dengan ketakziman dalam urusan-urusan keduniaan. Sebab dunia itu kecil di sisi Allah dan segala isinya pun tidak bernilai. Tidak menganggap besar harta duniawi pada dirinya, yang akan mendoorongnya untuk mengagungkan pencinta dunia. Sebab dengan begitu, ia menjadi rendah dalam pandangan Allah.
Tidak mengorbankan agam untuk memperoleh hal-hal yang bersifat duniawi, yang justru akan menjadikannya kerdil di hadapan mereka. Tidak memusuhi mereka, upaya tidak memunculkan sikap permusuhan. Merasa tidak mampu untuk bersabar dalam permusuhan, kecuali karena Allah ‘Azza wa Jalla. Memusuhi perbuatan jelek mereka, namun pandangi mereka dengan pandangan kasih sayang. Janganberharap agar mereka mencintai, memuliakan, menampakkan wajah berseri dan memuji dirinya sendiri. Sebab jika ia menuntut semua itu, hanya akan mendapatkan sedikit.
Jika mereka menaruh kepercayaan dan menyerahkan kewenangan kepadanya, tentu dia tidak akan selamat. Jangan berharap agar mereka mau bersikap baik – di belakangnya – laiknya sikap baik yang ditampakkan di hadapannya. Jangan berusaha mendapatkan semua itu. Jangan bersikap rakus terhadap apa-apa yang ada di tangan mereka, sehingga ia akan kehilangan agamanya. Jangan bersikap sombong kepada mereka. Apabila meminta bantuan kepada salah satu dari mereka, lalu dipenuhi, maka dia adalah saudaranya yang memberi kemanfaatan. Dan jika tidak dipenuhi, jangan mencelanya. Sebab hal itu akan menjadi dalih untuk memusuhi dirinya. Tidak menasehati siapapun dari mereka, kecuali setelah melihat adanya respon baik dari mereka. Sebab jika tidak, mereka justru akan memusuhinya dan tidak akan mau mendengar apapun darinya.
Apabila melihat kebaikan, kemuliaan dan hal terpuji lainnya pada diri mereka, kembalikanlah hal tersebut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hendaklah memuji-Nya dan memohon kepada-Nya agar hal tersebut membuat mereka tumpul.
Apabila melihat kejahatan, perkataan jelek, pergunjingan atau segala hal yang dibenci pada diri mereka, serahkanlah hal itu kepada Allah. Berlindunglah kepada-Nya dari kejahatan mereka dan memohon pertolongan-Nya untuk menghadapi mereka. Janganlah mencela mereka, sebab tidak ada hak baginya untuk mencela. Selain itu, celaannya juga akan membuat mereka memusuhinya, dan tidak akan mengobati kemarahannya. Akan tetapi, ia harus bertaubat kepada Allah dari dosa yang mereka lakukan. Dan meminta ampunan-Nya. Dan hendaklah dirinya menjadi seorang pendengar setia di antara mereka dan menjadi seorang tuli tentang kbathilan mereka.
Adab Anak Kepada Orang Tua
Hendaklah senantiasa mendengarkan segenap ucapan mereka, menghormati mereka, melaksanakan perintah mereka dan memenuhi panggilan mereka. Merendahkan diri di hadapan mereka dengan penuh kasih sayang. Tidak membuat mereka jemu dengan permintaan yang terus-menerus. Berbuat baik kepada mereka dan melaksanakan perintah mereka, semata-mata karena kebaikan mereka. Tidak memandangi mereka dengan sikap marah dan tidak mendurhakai perintah mereka.
Adab Orang Tua Kepada Anak
Orang tua selayaknya senantiasa menampakkan kebaikan kepada anak-anaknya. Tidak membebani mereka untuk berbuat baik di luar batas kemampuan mereka. Tidak memaksa mereka ketika merasa jemu. Tidak mencegah mereka untuk taat kepada Allah dan tidak menelantarkan pendidikan mereka.
Adab Berteman
Senantiasa menampakkan kegembiraan kepada mereka ketika bertemu. Memulai pertemuan dengan mengucapkan salam. Bersikap ramah, senantiasa memberi kelapangan ketika duduk, dan mengiringinya ketika berdiri. Diam ketika dia berbicara dan membenci perdebatan. Memperbagus ucapan ketika bertutur. Tidak memberikan jawaban sebelum dia selesai berbicara. Memanggilnya dengan nama yang paling disukainya.
Adab Tetangga
Hendaklah memulai perjumpaan dengan mengucapkan salam. Tidak memperpanjang percakapan dengan tetangga dan tidak banyak bertanya kepadanya. Menjenguknya ketika sakit dan turut berduka cita ketika dia tertimpa musibah. Menegurnya dengan ramah ketika dia melakukan kekeliruan. Menundukkan pandangan mata dari orang-orang semhrimnya. Menolongnya ketika meminta pertolongan. Tidak memandangi pelayan perempuannya.
Adab Majikan Kepada Pembantu
Hendaklah tidak membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan di luar batas kemampuannya. Bersikap ramah kepadanya ketika dia merasa jemu. Tidak memukulnya. Tidak mencelanya, sehingga menjadinya bersikap lancing. Memafkan kekeliruannya dan menerima permintaan maafnya. Jika mempunyai makanan yang baik, ajaklah dia makan bersama atau berilah dia makan dari makanan itu.
Adab Pembantu Kepada Majikannya
Senantiasa menuruti perintahnya. Menasehatinya ketika mereka bergunjing. Melayani sepenuhnya. Menjaga nama baiknya di hadapan muhrimnya dan bersikap lembut kepada anaknya. Tidak berkhianat di dalam menggunakan hartanya.
Adab Pemimpin Kepada Rakyatnya
Hendaklah selalu bersikap ramah, tidak bertindak keras, dan berfikir dahulu sebelum memberi perintah. Tidak bersikap sombong kepada orang-orang tertentu demi mencegah permusuhan dari mereka. Berusaha untuk memperleh simpati dari seluruh rakyat disertai rasa takut kepada mereka. Memperhatikan berbagai sarana pelayanan public. Menjaga kewaspadaan diri dalam bergaul dengan para ahli ilmu dan memberikan keleluasan kesempatan kepada mereka, juga kepada sahabat dan kerabat mereka. Bersikap ramah dalam menjatuhkan hukuman dan senantiasa memberikan perlindungan.
Adab Rakyat Kepada Penguasa
Hendaklah tidak berusaha mendatanginya. Tidak meminta bantuannya, kecuali untuk sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya. Memelihara sikap takut kepadanya, walaupun dia bersikap ramah. Tidak berlaku lancing kepadanya, walaupun dia bersikap lembut. Tidak banyak meminta, walaupun dia selalu memenuhi permintaannya. Berdo’a demi kebaikan dirinya ketika melihatnya. Tidak berbicara dengannya dan tidak berusaha mencarinya ketika dia tidak hadir.
Adab Hakim
Selalu membiasakan untuk berdiam diri. Menunjukkan kewibawaan dan bersikap tenang. Menjaga diri dari berbuat kejahatan dan melampaui batas. Berlaku baik kepada para janda dan berhati-hati kepada anak yatim. Tidak tergesa-gesa saat memberi keputusan dan berlaku baik kepada lawan. Tidak memihak kepada salah seorang dari dua orang yang bermusuhan. Memberi nasihat kepada pelaku penyimpangan. Senantiasa berlindung kepada Allah dalam menetapkan keputusan yang benar.
Adab Saksi
Senantiasa memelihara amanat dan meningalkan pengkhianatan. Bersikap teguh dalam memberi kesaksian, menjaga diri dari sifat lupa, dan menghindari perdebatan dengan penguasa.
Adab Berjihad
Meluruskan niat, bersikap cemburu kepada Allah, dan mencurahkan segenap kemampuan. Mengorbankan darah dan nyawa serta menolak keinginan untuk kembali. Bertekad untuk meninggikan kalimat Allah dan meninggalkan kecurangan dalam pembagian harta rampasan perang (al-gulul). Melunasi hutangnya sebelum pergi ke medan perang. Senantiasa berzikir kepada Allah saat berperang dan dalam segala keadaan.
Adab Tawanan
Seorang tawanan seyogianya tidak mengharap kelapangan dari selain Allah. Tidak menghinakan dirinya dengan bermaksiat kepada Allah. Tidak berputus asa dari rahmat Allah. Mencurahkan segenap harapan di hadapan Allah. Menyadari bahwa dia berada dalam lindungan Allah. Tidak bersenang-senang atas harta musuh yang tidak diperkenankan Allah. Tidak memohon pertolongan kepada selain Allah.
Kumpulan Adab-Adab lainnya
Sebagian diantara kaum ahli hikmah telah menasihatkan:
Termasuk adab dalam beragama adalah menjumpai sahabat atau musuh Anda dengan wajah keridhaan, tanpa menghinakan dan tidak merasa takut kepada mereka. Menjadi orang berwibawa tanpa harus bersikap sombong. Mengambil jalan tengah dalam semua urusanmu. Tidak memandang dirimu dengan penuh rasa takjub. Tidak banyak memalingkan muka. Tidak bergantung pada kekuatan jamaah.
Apabila kamu duduk, berusaha bersikap tegak. Berhati-hati untuk tidak menjalinkan jari-jemari, memainkan cincin, mencungkil sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, memasukkan tangan ke lubang hidung, dan mengusir lalat dari wajahmu. Tidak banyak menggeliat dan menguap. Menjadikan majlismu sebagai pemberi ketenangan dan menjadikan setiap perkataanmu sebagai penyejuk kalbu. Mendengarkan kata-kata mutiara dari orang yang mengajak Anda berbicara tanpa menampakkan ketakjuban ataupun kerendah-dirian. Berpalinglah dari lelucon dan dongeng. Tidak bercerita kepada orang lain ihwal rasa takjubmu terhadap anak-istrimu. Tidak berperilaku sepertiperempuan. Tidak menjadi orang yang tidak memiliki rasa malu seperti halnya seorang budak.
Senantiasa mengambil jalan tengah dalam segala urusan Anda. Tidak banyak memakai celak dan tidak berlebihan dalam menggunakan krim. Tidak membuat orang merasa jemu dalam bercerita. Tidak memberi informasi tentang kekayaanmu kepada keluarga dan anakmu – apalagi kepada orang lain. Sebab, jika mereka memandangnya sedikit, kamu akan dipandang rendah oleh mereka. Tetapi jika mereka memandangnya banyak, kamu tidak akan memperoleh keridhaan dari mereka. Cintailah mereka tanpa harus mengunakan ancaman dan bersikap lembutlah kepada mereka tanpa harus menunjukkan kelemahan. Jika kamu bermusuhan, janganlah berusaha untuk merusak kehormatan musuhmu. Berpkirlah terlebih dahulu sebelum kamu mengemukakan alas an. Tidak sering menunjuk dengan tangan. Tidak berlutut. Mulailah berbicara, tatkala amarahmu telah mereda. Jika kamu diuji dengan kedekatan kepada penguasa, berhati-hatilah dan jangan merasa aman. Sebab bisa saja ia berbalik memusuhi anda. Pergaulilah ia dengan baik laiknya kamu mempergauli anak kecil. Ajaklah dia berbicara tentang hal-hal yang dikehendaki. Berhati-hatilah untuk tidak mendatanginya tatkala dia sedang berkumpul dengan keluarga, anak-anaknya dan kerabatnya – walaupun mereka hanya menjadi pendengar.
Waspadalah terhadap orang yang berpura-pura bersahabat denganmu, karena dia pada dasarnya termasuk mushmu. Jangan jadikan hartamu lebih berharga daripada harga dirimu. Senantiasa waspada untuk tidak banyak meludah di tengah orang banyak, sebab barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia akan dianggap sebagai perempuan. Tidak menampakkan sesuatu hal yang akan menyakiti sahabatmu. Sebab, jika dia melihatnya, dia akan membalasnya dengan sikap permusuhan. Jangan bergurau dengan orang pandai, karena dia akan merasa dengki kepadamu. Jangan bergurau dengan orang dungu, karena dia akan lancing kepadamu. Senda gurau sesungguhnya dapat menghilangkan sikap takzim, menjatuhkan kedudukan, menghilangkan harga diri, menyebabkan kesedihan, menghilangkan manisnya cinta, melahirkan aib bagi ahli fiqh, menyebabkan kelancangan orang dungu, mematikan hati, menyebabkan jauh dari Tuhan, melahirkan celaan, melemahkan tekad yang kuat, membuat batin menjadi gelap, mematikan pikiran, memperbanyak dosa dan menampakkan aib.
Penutup
Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua bersama orang-orang yang diberi petunjuk-Nya, merawat kita semua bersama orang-orang yang dipelihara-Nya, menjadi pelindung kita semua bersama orang-orang yang dilindungi-Nya, memberkati apa yang dikaruniakan-Nya dan menjauhkan kita dari kejahatan yang telah ditetapkan-Nya. Sebab, tidak ada yang menolak apa-apa yang telah ditetapkan-Nya, tidak ada yang kuasa untuk mengangungkan orang-orang yang dimusuhi-Nya dan tidak ada yang kuasa menghinakan orang-orang yang dilindungi-Nya.
Maha Suci dan Maha Tinggi Tuhan kita. Kepada-Nya kita memohon ampunan dan bertobat. Kepada-Nya kita memohon agar senantiasa mencurahkan segenap salawat yang paling utama kepada hamba-Nya yang terpilih, keluarga dan para sahabatnya.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan salawat dan salam kedamaian kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, yang tidak mengenal baca-tulis. Amiin.
Artikel II
Well…artikel ini merupakan ‘oleh-oleh’ dari perjalananku selama beberapa hari di Yogya. Sebelumnya, aku ucapkan banyak2 terima kasih kepada Godril, Billy, dan terutama kepada Ronceh yang telah mengundangku datang ke Yogyakarta. Semoga ALLOH SWT membalas kebaikan kalian berlipat ganda, aamiin. :-) Btw, artikel ini agak sedikit panjang, jadi mohon maaf…karena aku mesti sediakan referensi yg cukup lengkap ;)

Artikel ini terinspirasikan dari smsku ke Godril, saat hendak pulang ke Bandung . “Ril, thanks banget dah mau direpotin ama aku selama di Yogya. Sorry kalo ada yg ga berkenan. Semoga ga kapok didatengin lagi, hehehe..” Nah, Godril membalasnya dg sms seperti ini“Kowe ncen ngrepoti kok. Gaya gawe maap2an brg. Huehe. Wes kroso bersalah? Hahaha. Okay jg makasi dah dateng. Maap kalo ada sambutan yg kurang berkenan n kurang.” Hehehe…lucu juga loh mas Godril ini, barangkali ada yg berminat, beliau masih jomblo kok ;-)

Nah, dari sms itu…aku hendak memfokuskan ke bagian MEREPOTKAN. Seorang tamu, HENDAKNYA, kedatangan dia TIDAK TERLALU MEREPOTKAN tuan rumah. Makanya, seringkali kita melihat, mendengar, dan mengalami sendiri, jika kita bertamu dan tuan rumah menyuguhkan makanan/minuman, biasanya kita akan berkata “Waduh, maaf nih, merepotkan..!!!” :p

Sekilas kita anggap ini basa-basi, namun sesungguhnya Islam sendiri telah memberikan panduan bagaimana tidak saja menjadi tamu yang baik, namun juga bagaimana menjadi tuan rumah yang baik.

Bahkan, sebenarnya dalam Islam, bertamu tidak mesti menginap, bahkan menjadi/mendapat undangan (pernikahan/walimahan, sunatan, ataupun yang lain), sudah dapat dikategorikan sebagai bertamu. Dengan demikian, hal yang serupa juga berlaku untuk tuan rumah. Dia tidak mesti harus ‘diinapi’, namun mengundang saja sudah dapat digolongkan sebagai tuan rumah.

Al Qur’an yang mempunyai posisi hukum tertinggi di Islam, menjelaskan secara sekilas mengenai etika bertamu ini, sebagaimana bisa kita lihat di An-Nur(24): 27-29,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.== Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja) lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. == Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Dari referensi-referensi hadits dan etika bertamu dari Rasululloh SAW yg aku dapatkan, aku tuliskan beberapa diantaranya:

UNTUK TAMU:

- Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur/halangan, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengatakan:“Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim)

- Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya. Ini berarti Islam secara NYATA mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan manusia, kecuali dalam hal takwa.

- Apabila kita sedang berpuasa sekalipun, diharapkan hadir. Ada hadits yang bersumber dari Jabir Radhiallaahu anhu menyebutkan bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:”Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).

- Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget sebelum semuanya siap. Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.

- Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.

- Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. Dan di antara do`a yang ma’tsur adalah :
“Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. dan orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan para malaikan telah bershalawat untukmu”. (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).

“Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang memberi kami minum”.

- Tidak Mengintai Ke Dalam Bilik. Jika kita hendak bertamu dan telah sampai di halaman rumah, tidak diizinkan mengintip melalui jendela atau bilik, walaupun tujuannya ingin mengetahui penghuninya ada atau tidak. Tindakan ini sangat dilarang dan mempunyai ancaman yang sangat keras. Hadits di bawah ini menjelaskan hal tersebut:

Dari Abu Hurairoh ia berkata, Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam (nama lain Rasululloh SAW) bersabda,”Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.”

Dari Anas bin Malik,“Sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi, lalu Nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang untuk menusuk orang itu.”

Hadits ini menunjukkan ancaman yang keras untuk orang yang mengintip dan melihat orang yang berada di rumahnya tanpa memperoleh izin sebelumnya.

- Tidak Masuk Rumah Walaupun Terbuka Pintunya. Dari ayat 27 An Nuur, sebagaimana telah ditulis di atas, kita baru boleh masuk rumah orang lain harus mendapatkan izin dari pemilik rumah.

- Minta Izin Maksimal Tiga Kali. Tamu yang hendak masuk di (halaman) rumah orang lain jika telah meminta izin tiga kali, tidak ada yang menjawab atau tidak diizinkan, hendaknya pergi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata,“Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya, tetapi tidak ada yang menjawab, lalu dia pergi, maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya,”Mengapa kamu kembali?” Dia menjawab,”Saya mendengar Rasululloh bersabda,”Barangsiapa meminta izin tiga kali, lalu tidak diizinkan, maka hendaklah kembali.”

- Tidak Menghadap Ke Arah Pintu Masuk. Ketika tamu tiba di depan rumah, hendaknya tidak menghadap ke arah pintu. Tetapi hendaknya dia berdiri di sebelah pintu, baik di kanan maupun di sebelah kiri. Hal ini dicontohkan Rasululloh SAW.Dari Abdulloh bin Bisyer ia berkata,“Adalah Rasululloh SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan”Assalamu ‘alaikum … assalamu ‘alaikum …”

- Hendaknya Menyebut Nama Yang Jelas. Ketika tuan rumah menanyakan nama, tamu tidak boleh menjawab dengan jawaban “Saya (sebutkan nama)” atau jawaban yang tidak jelas. Karena tujuan tuan rumah bertanya adalah ingin tahu siapa tamu yang mengunjunginya dan untuk menentukan sikap apakah tamu tersebut boleh masuk atau tidak.

TUAN RUMAH:

- Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan/melupakan orang-orang fakir. Rasululloh SAW bersabda:“Seburuk-buruk makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq’ alaih).

- Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoya-foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasululloh SAW dan membahagiakan teman-teman sahabat, ataupun syukuran dalam rangka bersyukur atas nikmat yang telah diberikan ALLOH SWT.

- Tidak memaksa-maksakan diri untuk mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan:“Pada suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: “Kami dilarang memaksa diri” (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari)

- Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.

- Jangan menampakkan kejemuan/kebosanan terhadap tamu, tetapi tunjukkanlah kegembiraan dengan kahadiran tamu tersebut, diantaranya dengan cara bermuka manis dan berbicara ramah.

- Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya. ***jadi ingat pengalamanku, bertamu ke rumah seorang teman. Kami (ber-5) bertamu hingga 5jam untuk menjenguknya, namun tuan rumah tega membiarkan kami kelaparan, xixixi…sebenarnya bukan masalah makanannya, namun jika melihat adab ini, sudah ’sewajarnya’ jika tuan rumah memberi suguhan.***

- Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hidangan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan. ***ini juga terkait dg poin di atas. Jika buru-buru membereskan hidangan, kesannya mengusir tamu…hehehe…***

- Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.

Demikian artikel tentang bertamu ini…semoga bisa diterapkan oleh pembaca, khususnya oleh penulis artikel ini. Semoga bermanfaat :-)